@Fanbul

Ketika asa dan rasa berkhianat pada logika.

Senja Manja

Di sebuah pagi yang terbuka lebar,

ada pintu langit yang membentang mengintip manja,

dengan mata sayu.

Sejenak ia bergumam

“Ada anak manusia yang dipilu rindu, di sana”

Matahari mengintip:

bermetamoforsa menjadi bayang senja.

Berwujud muka Tuan yang Puan rindukan, di sana.

Matahari tak lagi manja:

ia pasrah digusur senja yang berpulang.

Puan masih memanjakan rindunya yang larut bersama jingga.

Di sana:

Di sendu rindumu yang semakin manja.

- Fanbul, Juni 2012, digarap di buku catatannya bung Bagustian Iskandar -

AC Kamar

Tes, tes

Suara air terjun bebas dari kotak panjang di sudut kamar

Plung, plung

Suara air yang berkoalisi menjadi satu pada wadah yang nyaris penuh

Kotak ini sedang menangisi sesuatu.

Pria besar bertanya,

“Apalah yang membuatmu begitu naïf?”

Dijawabnya,

“Kesendirianku, aku hanya mendinginkan, tanpa pernah menghangatkan.”

Pria besar hanya diam, seraya menarik handuk dari satu keramik, ke keramik lainnya.

Kotak ini masih menangisi sesuatu.

Pria besar menghentak,

“Cukup!”

Kotak menjawab,

“Aku tidak pernah cukup menangisi air mataku yang telah sia-sia jatuh..”

O, kotak panjang yang terjebak di labirin kenyataan hidupnya sendiri.

Analogi Anak Kecil

Kapan kita bisa tertawa, selayaknya anak kecil?

tanpa ada keraguan, tanpa ada kepalsuan

Lalu, kita membentuk gundukan pasir di pesisir pantai, istana megah khayalan bersama

Kapan kita bisa berbagi, selayaknya anak kecil?

Tanpa takut kehilangan, tanpa takut kekurangan

Lalu, kita belari di jalanan kumuh pinggir kota, sembari sedikit tertawa, menyepelekan dunia

Kapan kita bisa bermain-main, selayaknya anak kecil?

Tapi, aku tidak mau bermain-main sama cinta, ah. Nanti jatuh di sembarang tempat, bisa bahaya.

- Fanbul -

Tua!

Hak kita menjadi tua, hak kita untuk bertanya

“Sudah sejauh mana kamu bersinggah, kaki?”

Hak kita menjadi tua, hak kita untuk bertanya

“Sudah sesakit apa tamparan yang hinggap, pipi?”

Hak kita menjadi tua, hak kita untuk bertanya

“Sudah sekasar apa epidermis kamu, tangan?”

Hak kita menjadi tua, hak kita untuk bertanya

“Sudah setegar apa pendirian kamu, hati?”

Hak kita menjadi tua, hak kita untuk menjawabnya

“Biarlah, waktu itu, mahluk serba tau.”

- Fanbul -

O, Kafein

Selamat pagi, ujarku.

Monolog paling dini, pada hariku.

Selamat pagi, ujarku.

Kepada entah siapa, mungkin itu, kamu?

O, Kafein

Apa lagi yang lebih didewakan dari secangkir kehangatan pekat, di pagi hari?

O, Kafein

Apa lagi yang lebih manis dari pahitnya kopi yang rutin Nona sajikan, di pagi hari?

O, Kafein

Aku ingin terjaga, pada rindu yang tak mau terlelap, di pagi hari.

O, Kafein

Biarkan saja mendingin, Nona depan meja sudah berikan hangatnya.

- Fanbul -

Halo Nona!

Halo Nona! Masih meramu sendiri takaran untuk harimu? Mari sini aku bantu.

Halo Nona! Masih merenungi pekatnya rindu? Melebihi kafein di pagimu.

Halo Nona! Masih bersandar pada semunya abu-abu? Warnai saja, dengan merahku.

Halo Nona! Akukah Tuan untuk rindu di abu-abunya harimu?

- Fanbul -

Deklarasi Perpisahan, Dua.

Teman lama pernah berkata,

bahwasaja kepergian ialah kepulangan berikutnya

bahwasaja kepergian ialah saat paling nikmat untuk sebuah kata penantian

bahwasaja kepergian ialah alasan Tuhan menciptakan waktu

Aku pula percaya,

bahwasaja akan ada manisnya kepulangan, setelah pahitnya kepergian.

Yogyakarta, 14 Juni 2012.

Deklarasi Perpisahan

Sesingkat-singkatnya pertemuan,

namun pertemuan pulalah saat kala semua manusia mengagungkan keindahan, mendambakan kekekalan..

Seranum-ranumnya pertemuan,

namun adapula yang harus dikorbankan, laksana pernyataan yang tidak pernah dipernyatakan..

Sebaik-baiknya pertemuan,

adalah tentang kesiapan..

Ketika lambaian tangan dibentangkan, dan ucapan selamat tinggal dikumdangkan.

Itulah perpisahan yang kita rayakan.

Yogyakarta, 14 Juni 2012.

Penulis Buta

Aku ini penulis buta, membaca dirimu saja aku tidak bisa.

Aku ini penulis buta, aku butuh untuk meraba setiap kata.

Aku ini penulis buta, menerka, adalah salah satu caraku untuk bercinta.

Aku ini penulis buta, tapi kini aku melihatmu, Nona.

- Fanbul -

Dunia dan Panggung Mereka

Dunia bagaikan suatu panggung terkaan, siapa saja berhak untuk saling menerka, dan siapa saja juga berhak menentukan sudut mereka menerka..

Dunia bagaikan skenario sandiwara yang layak untuk ditertawakan bersama, sayangnya.. kita mungkin berbeda selera..

Dunia bagaikan topeng untuk mencaci realita, menutup muka dari segala fakta, dan kembali menerkanya tanpa memberi tanda tanya..

Dunia bagaikan canda dan duka yang dikemas dalam satu raut muka, sayang dan benci yang dibungkus dalam satu hati, dan bahkan kita tidak dapat membedakan warnanya..

Yah..

Ironi panggung ini.. memberi peran antagonistik pada manusia, memusuhinya, dan lalu menertawakannya..

Yah..

Ironi panggung ini.. Jabat tangan harus saling melepaskan hanya untuk sebuah ketidakrasionalan..

Yah..

Ironi panggung ini.. Segala hal bagaikan dua sisi yang harus saling berlawanan, dan setiap jalan bagaikan persimpangan-persimpangan..

Tapi..

Biarlah, mereka adalah bagian dari panggungku juga, walaupun logika tidak dapat menerima dan pada akhirnya ego perlahan menguburnya..